Ketut Sumedana: Cita-cita Saya Sebenarnya Ingin Jadi Guru, Bukan Jadi Jaksa

Bapak juga pernah bertugas selama 5 tahun di KPK, sampai mendapat posisi sebagai Kepala Satgas Penuntutan. Ada nggak pengalaman menarik selama di KPK?

Begini, tugas di tempat kita yang biasa dilahirkan dengan tempat yang baru tentu sangat berbeda ya. Saya waktu itu kenapa memilih untuk berkarya di tempat lain ya saya kepingin belajar dengan budaya kerjanya mereka, satu itu.

Kemudian kita juga punya pengalaman lain, kalau kita cuma di sini saja, hebat kayaknya kayak katak dalam tempurung. Hebat nggak pernah dilihat sama orang gitu. Sehingga kita mencoba chalenge baru di tempat lain ya, dan tantangannya cukup beragam karena di sana dulu perkaranya gede-gede kan?

Saya pernah menangani perkara besannya Pak SBY, termasuk juga Pak Hari Sabarno waktu itu jadi Mendagri dan gubernur seluruh Indonesia juga pernah kami tangani. Ya, itu merupakan suatu pengalaman yang paling berharga buat saya kan gitu.

Sehingga ketika kita balik dari sana ini bisa menjadi trigger di tempat kita yang lama di Kejaksaan. Jadi cukup bagus sebenarnya kita keluar asalkan kita bisa memanfaatkan dengan baik, saya kira semua akan bermanfaat bagi institusi ini.

Ada tidak rasa takut saat harus menghadapi para tersangka korupsi yang notabene adalah orang-orang yang hebat dan memiliki kekuasaan?

Kalau ada rasa takut lebih baik nggak usah jadi jaksa deh ya. Karena saya pikir begini, semua pekerjaan itu mengandung risiko. Dokter mengandung risiko berhadapan dengan penyakit. Nggak usah dokter, tukang becak saja kadang-kadang tidur bisa mati kelelahan.

Ya kalau jaksa sudah tentu tantangannya adalah terdakwa, terpidana ya kan, belum tekanan dari penguasa, pasti banyak tantangan. Belum godaan untuk disuap, bisa saja itu kita mau baik tapi kalau lingkungannya nggak bagus juga bisa jadi tantangan buat kita.

Jadi kalau takut jangan jadi jaksa, begitu ya, Pak?

Kalau takut jangan jadi jaksa, jangan jadi penegak hukum. Sudah barang tentu setiap hari Anda harus berhadapan dengan penjahat, sudah barang tentu Anda akan berhadapan bukan hanya penjahat ya, kejahatan yang terorganisir itu sudah pasti.

Dan itu akan menular, kalau kita takut akan menular kepada keluarga. Maka dari itu, keluarga tuh nggak usah tahulah apa pekerjaan bapaknya setiap hari ya, tahunya nonton di TV aja kalau saya.

Jadi Bapak nggak pernah cerita-cerita pekerjaan ke keluarga?

Nggak, yang jelas kita selalu sempatkan untuk pulang dalam rangka komunikasi dengan keluarga, segitu saja.

Karier Bapak boleh dikatakan lengkap. Sejak dari staf Kejaksaan Negeri Praya, menjadi Kepala Kejari Mataram, Bantul dan Gianyar hingga bertugas di KPK dan menjadi Wakil Kajati Bali. Nah, sepanjang masa itu kasus apa saja yang paling berkesan yang pernah Bapak tangani?

Yang paling berkesan, pertama itu ada kasus namanya Baiq Nuril, dulu di Kejaksaan Negeri Mataram yang begitu terkenal sampai ke luar negeri itu kasusnya. Karena itu adalah kasus pertama yang mendapatkan amnesti dari Presiden Jokowi. Satu-satunya kasus Undang-Undang ITE yang pertama mendapatkan amnesti, cuma kasus itu ya kan?

Baca Juga  VIDEO: Masih Segar! Prabowo Berjoget Ria Saat Rayakan Ulang Tahun ke-72

Kenapa itu terkenal, karena di samping dia menjadi pelaku tindak pidana yaitu Undang-Undang ITE dan sudah diputus sampai Mahkamah Agung, dia juga sebagai korban pada saat itu. Korban dalam artian ya si korban, gurunya pada saat itu, juga sering berkomunikasi dengan kata-kata yang tidak senonoh dalam tanda kutip.

Itu tidak diatur dalam Undang-Undang ITE, yang namanya pelecehan verbal itu belum diatur. Nah di sanalah ada istilahnya ada terobosan hukum ya yang harus dilakukan ke depan, bagaimana kalau pelecehan verbal ini bisa diatur dalam Undang-Undang ITE ke depannya.

Itu yang menjadi menarik buat saya, karena itu sampai duta besar sampai beberapa menteri datang mengunjungi Baiq Nuril ini pada saat mereka di penjara. Dan pada saat itu saya kekeh menyatakan agar dieksekusi Baiq Nuril untuk demi kepastian hukum dan kemanfaatan hukum.

Kalau tidak dieksekusi dia tidak akan bisa mengajukan upaya PK, nggak bisa mengajukan upaya-upaya hukum lain karena statusnya harus narapidana, tetapi mereka nggak mau.

Apa yang terjadi? Akhirnya dia minta amnesti kepada Presiden dan Presiden sampai DPR mengetok palunya menyetujui perkara itu. Itu luar biasa. Sampai akhirnya saya masuk ILC juga gara-gara itu, jadi terkenal gitu lho.

Pengalaman lainnya?

Yang kedua pada saat saya jadi Kepala Kejaksaan Negeri Mataram juga ya, pada saat itu ada gempa tahun 2018. Ada salah seorang anggota Dewan yang meminta uang kepada tersangka saya, yang tersangka pada saat itu kami periksa di Kejaksaan.

Tersangka ini kapasitasnya sebagai kepala dinas pada saat itu. Kepala dinas mendapatkan bantuan perbaikan gedung sekolah, bantuan sekolahlah gitu. Ini ada seorang angota Dewan meminta sesuatu yang akhirnya kita dengar. Lho ini nggak benar nih, masa bantuan gempa, bantuan kemanusiaan mau diperes.

Nah ini yang saya lakukan, bagaimana caranya menangkap orang seperti ini? Ya karena kita sudah biasa nangkap di KPK, di mana-mana ya akhirnya tangkap juga gitu loh. Ini menjadi booming ya yang membuat saya juga jadi terkenal itu seperti sekarang. Agak sombong sedikit ya?

Bolehlah Pak, memang ada prestasinya kan?

Karena jadi Kapuspenkum itu kalau tidak mau terkenal nggak usah jadi Kapus. Memang harus performance dijaga, gaya komunikasi dijaga dan apa yang harus dijual. Karena kita ini marketing di sini ya kan, sesuatu yang jelek menjadi bagus kita jual gitu. Padahal yang saya sampaikan belum tentu benar kan, tapi benar semualah.

Karena Bapak kan juga harus memberitahu ke masyarakat apa sebenarnya yang dikerjakan?

Oh iya, maka saya bilang selalu ngomong sama media, ketika Anda menanyakan sesuatu yang belum terjadi itu nggak boleh saya jawab. Kamu harus menanyakan sesuatu yang sudah ada real, fakta riilnya, realitanya harus ada.

Jangan berandai-andai gitu?

Jangan, Pak nanti kedepannya mau diapakan ini? Nggak boleh, kita nggak boleh jawab yang begitu ya kan? Karena kita bukan ahli nujum, bukan dukun pula kan? Jadi harus memberikan suatu informasi yang real time sesuai dan faktual.

Baca Juga  VIDEO: Kacau! Pria Mabuk Ngamuk Saat Proses Penghitungan Suara TPS di Bengkulu

Itu juga pasti tantangan buat Bapak, di mana banyak sekali hoaks yang berseliweran, bagaimana Bapak bisa memerangi hoaks tersebut?

Begini, di kita ada penilaian suatu pemberitaan ya. Kita setiap hari ada patroli media, kita juga punya alatnya ya, itu untuk menilai bahwa berita ini mengandung kebenaran, mengandung fakta apa tidak. Maka dari itu apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi hoaks, harus diverifikasi dan diklarifikasi.

Klarifikasi harus kita tanyakan kepada sumber yang terpercaya terkait dengan apa yang terjadi dalam hoaks yang diberitakan, peristiwa yang diberitakan itu.

Pernah atau adakah hoaks yang sangat merugikan Kejaksaan:

Banyak dong, ya kan? Kadang-kadang yang kita hadapi ini kan koruptor fight back, benar nggak? Begitu kita gencar melakukan suatu upaya penindakan terhadap suatu kasus yang besar, tentu seperti tadi saya bilang ya, ini pasti risikonya banyak.

Semakin kita gencar, musuh kita semakin banyak, ya kan? Maka dari itu siap-siap untuk menghadapi koruptor fight back. Apa yang mereka lakukan? Menyebar hoaks, pimpinan kami pernah diberitakan dengan tanda kutip, ya kan? Kita akan diberitakan nanti ada pemerasan, upaya-upaya pemerasan, upaya-upaya rekayasa kasus itu sudah biasa.

Kriminalisasi, politisasi itu sudah biasa, itu makanan saya sehari-hari. Bagaimana cara melakukan ini? Strateginya harus bagus, harus elegan, tidak boleh emosi, dengan kepala dingin, nggak boleh baperan.

Tapi awal-awal Bapak pasti merasakan anxious juga kan?

Oh iya dong, saya baru pertama jadi Kapuspenkum itu wah stres, asam urat saya kambuh. Sampai saya jalan-jalan kan, ini kenapa nih asam uratnya kambuh? Ya stres. Karena saya nggak menyangka kalau tugas Kapus itu tidak sekadar ngomong di media, nggak nyangka.

Harus menyelesaikan masalah yang ada di pusat sampai di daerah. Isu-isu tentang daerah harus kita tahu. Mitigasi, risiko setiap kegiatan yang ada di Kejaksaan harus kita tahu. Sampai Pak Jaksa Agung ngomong serahkan semua kasusnya, serahkan sama Kapus, lama-lama kan pusing juga kepala kita. Namanya Kapus itu kepala pusing singkatannya.

Lantas bagaimana cara mengatasi rasa cemas itu?

Jangankan menghadapi masalah, saya menghadapi media saja kadang-kadang pusing, kadang-kadang grogi gitu lho. Tetapi resep yang paling manjur itu adalah kita menguasai materi yang akan kita sampaikan. Kita harus banyak belajar, banyak membaca ya, banyak berkomunikasi dengan sumber informasi, paling penting itu.

Dan paling penting selalu tersenyum di depan media, sehingga kalau ada wartawan atau media yang marah kalau kita senyum kan lunak hatinya kan, seperti itu.Jadi itu resep yang utama, selalu tersenyum, bersabar ya.

Karena media itu tidak semua menanyakan kebutuhan pemberitaan masyarakat, nggak semua. Jadi ada media punya kepentingan, ada media yang nyari-nyari masalah, dalam tanda kutip, ada juga media-media yang bermanuver seperti itu kan, saya dalam tanda kutip ya.

 

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *