Jokowi Singgung soal Pergantian Pemimpin: Butuh Konsistensi, Keberlanjutan

Liputan6.com, Jakarta Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung model kepemimpinan nasional yang tidak pernah maju.

Hal itu dikarenakan setiap pergantian pemimpin tidak pernah ada keberlanjutan dan justru mengulang dari nol.

“Butuh konsistensi, keberlanjutan karena dari yang saya pelajari dari kepemimpinan kepemimpinan kita itu selalu sudah SMP balik lagi ke TK lagi, sehingga balik lagi ke nol,” singgung Jokowi saat memberikan sambutan pada Acara Kompas 100 CEO Forum di Kawasan IKN seperti dikutip daring Kamis (2/11/2023).

Dia menambahkan, jika setiap pergantian pemimpin harus kembali ke titik nol maka sulit bagi Indonesia bisa mencapai ke tingkat yang lebih tinggi. Khususnya, dari negara berkembang menjadi negara maju.

“Seperti kita beli bensin di pompa bensin, pak dari nol pak, pak sudah nol pak, apa kita mau seperti itu terus? kalau sudah masuk SMP harusnya bisa masuk ke SMA, S-1, S-2, S-3, S-4, S-5, S-6 mestinya seperti itu konsistensi dan itu yang harusnya dibutuhkan,” tegas Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menjelaskan, keberlanjutan diinginkan adalah bagaimana menciptakan ekosistem global supply chain yang berpengaruh di dunia. Salah satunya, adalah dengan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

“Indonesia adalah negara besar dengan potensi yang besar tetapi bagaimana kita bisa mengintegrasikan potensi besar ini agar menjadi kekuatan besar bangsa kita, ketergantungan negara lain terhadap bangsa kita, sehingga saya ingin ada satu produk besar kita yang bisa masuk ke global supply chain,” jelas Jokowi.

Mantan Wali Kota Solo ini juga mencatat, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana dapat mengintegrasikan seluruh potensi alam di Indonesia yang titiknya terpisah satu dan lainnya.

Baca Juga  Dewas KPK Pastikan Tetap Bacakan Vonis 3 Pelanggaran Etik Meski Firli Bahuri Tak Hadir

“Mengintegrasikan bukan barang mudah, bagaimana mengintegrasikan nikel yang banyak Sulawesi dengan bauksit yang banyak di barat, seperti Bintan dan Kalbar. Bagaimana mengintegrasikan lagi dengan tembaga yang ada di Papua dan NTB. Jadi yang paling efisien diletakan dimana kalau mau bikin pabriknya?,” katanya.

 

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *